Apa yang terlintas di pikiran kalian saat menengar nama negara ‘Iran’? Di pikiran saya sendiri, yang langsung terbayang adalah Islam, debu, wanita dengan pakaian serba hitam tertutup, dan para gadis yang cantik. Yang saya selalu dengar adalah bahwa cewek-cewek Iran merupakan yang tercantik di dunia (walau ada juga yang bilang cewek dari Rusia paling cantik, ya selera sih..).
Waktu itu ada bazar buku di kampus saya, IPB. Lumayan juga diskonnya. Iseng-iseng lihat buku, saya menemukan buku Pelangi di Persia umyang ditulis oleh Dina Y. Sulaeman. Saya membelinya pada hari Jumat tanggal 19 Desember 2008 dengan harga Rp 63.500 (saya lupa ini harga setelah diskon atau belum). Tabpa pikir panjang saya beli, karena isinya menarik di mana pembaca dapat menyusuri eksotisme Iran. Melihat gambar-gambar gadis Iran yang dijadikan sampul buku, saya langsung tertarik. Eitts..bukan karena saya lesbi ya, tapi sedikit sirik melihat mereka cantik-cantik banget. Saya mau tahu cerita-cerita di balik pakaian hitam mereka.
Di dalam buku ini Dina bercerita banyak tetang Iran. Yang paling saya ingat (saya membacanya di tahn 2008, sekarang 2012) dan juga paling menarik adalah mengenai bagaimana perilaku dan kebiasaan-kebiasaan orang Iran, karena menurut saya lebih asyik untuk dipahami. Saya tidak terlalu fokus membaca ketika Dina bercerita mengenai tempat-tempat bersejarah di sana, selain karena nama-nama yang sulit diingat, juga karena saya tidak tertarik dengan tempat-tempat (objek wisata) di sana.
Banyak kejutan yang akan membuat kalian kaget. Dari halaman-halaman awal pun kalian akan dapat menemukannya. Mungkin terkejut karena hal tersebut baru bagi saya. Saya akan cerita sedikit fakta apa saja yang menarik dari Iran.
- Di Iran, seperti di kebanyakan negara-negara Timur Tengah, sang pria lah yang ‘membeli’ wanita untuk menikah. Dalam bentuk koin emas. Memang di Islam sang pria yang memberi mahar, cuma sedikit keterlaluan juga ya kalau harga ‘pasaran’ di kota Tehran adalah 500 keping (setara 500 juta rupiah!!). Bahkan ada yang meminta hingga ribuan keping. Bisa dicicil juga maharnya. Alasan kenapa mahar bisa mahal sekali adalah agar ada jaminan hidup untuk si perempuan, jadi si laki-laki nggak bisa seenaknya menceraikan. Rugi lah sudah keluar uang banyak malah cerai. Urusan makin ribet ditambah bahwa kewajiban si laki-laki menyediakan rumah (minimalnya ngontrak). Pihak perempuan berkewajiban mengisi rumah tersebut dengan perabotan rumah tangga lengkap. Lengkap hingga ketel pemasak air.
- Makanan di Iran semuanya super hambar. Bumbu dengan garam saja sudah Alhamdulillah. Bisa terbayang kan culture shock-nya seperti apa yang akan dialami orang Padang (Indonesia)? Hehe.
- Cewek Iran wajib pakai pakaian panjang warna hitam, namanya chadur. Ada dua jenis, yang model Arab dan model khas Iran. Menurut deskripsi Dina,chadurĀ Iran seperti ‘kain hitam membentuk lingkaran besar dengan diameter 2 meter, lalu dibelah dua, dan satu belahan setengah lingkaran diselubungkan ke tubuh kecuali muka’.Di buka ketika sampai di rumah. Apakah kalian turis asing, non muslim, atau apapun, kalau masuk Iran wajib pakai chadur.
- Yang bandel juga ada.Banyak cewek Iran yang pake jilbabnya asal menclok di kepala. Rambutnya di cat pirang, lalu jambulnya dikeluarin dari jilbab.
- Penampilan cewek Iran memang menutup aurat (umumnya), tapi mereka nggak ketinggalan mode. Di dalam rumah penampilan mereka cling! cling! cling! banget. Sang penulis, Dina, ketika berkunjung kerumah tetangga-tetangganya menemukan bahwa mereka memakai baju nan seksi dan riasan wajah yang cantik. Nggak ada deh daster lusuh kayak di Indonesia.
- Perempuan Iran hobi banget ke salon. Sejak kecil, anak-anak perempuan rajin dibawa ibu-ibu mereka ke salon. Perempuan Iran memang harus menjaga penampilan. Alis mereka harus dirapikan dan lain-lain. Dina sang penulis menjelaskan kalau ia selalu ditatap aneh karena membiarkan alisnya begitu saja tanpa dirapikan (Umumnya di Indonesia memang begitu kan? Yang rajin nyalon sih kebanyakan wanita karir dan artis).
Pernah ada yang berkata kepada Dina “Sekarang saya paham, mengapa laki-laki Indonesia suka beristri lebih dari satu.”
Dina tergagap, “Kenapa memangnya?”
“Kalian tidak mengurus penampilan”
- Pernah lihat hidung orang Iran? Mancung kan? Iya mancung banget. Meski sudah mancung, tetap saja nggak bikin mereka puas. Baik laki-laki maupun perempuan doyan untuk operasi hidung. Bahkan operasi hidung dipandang sebagai prestise di mana mereka akan dianggap orang berada, sehingga jangan heran kalau ada yang bahkan tetap membiarkan plester habis operasi tetap nempel di hidung kemanapun mereka pergi. Hingga berbulan-bulan lamanya. Duh.
Menarik kan? Masih banyak fakta menarik lainnya. Deskripsi yang dipaparkan Dina terasa mendalam. Tidak heran, karena memang dia dan suami sudah tinggal bertahun-tahun di Iran. Saya puas membaca buku ini. Padat, full of information, kualitas kertas bagus, dan disertai dengan banyak gambar.












nemu dblog pas googling, ijin share ke twitter yah,
silakan