Tanpa perlu ditanya saya yakin banyak orang yang sudah pernah baca buku cerita. Pernah baca buku yang nama tokohnya sama dengan nama kalian? Itu juga pasti pernah dialami oleh banyak orang. Malah sudah umum. Yang tidak biasa adalah saya menjadi tokoh di buku cerita.
Seperti biasa, suatu informasi pasti mudah tersebar di antara ibu-ibu di komplek manapun. Di zaman saya masih SD, kala itu beredar brosur pemesanan buku cerita yang namanya bisa diganti. Mama saya ikutan dong nawarin saya dan adik saya, Farid, mau atau nggak pesan buku tersebut.
Buku ini namanya Buku Perananku. Buku ini dicetak oleh PT Dalancang Seta di Jakarta. Mereka menawarkan puluhan judul cerita di brosur. Kita tinggal memilih buku mana yang mau dipesan dan diganti nama tokohnya dengan nama kita sendiri! Lucu ya. Berhubung dulu saya masih polos dan masih anak-anak yang termakan indahnya cerita princess Disney, tanpa mau repot mikir saya pilih cerita Cinderella. Adik saya milih cerita tentang petualangan trio penyelamat. Harga bukunya saya lupa (yang bayar mama, jadi nggak perlu dong). Di buku tertulis, dicetak bulan Juli tahun 1997. Wah masih ada tidak ya yang seperti ini?
Tokoh utama cerita Cinderella sudah jelas si Cinderella. Nah, Cinderella-nya itu saya. Saya pesan bukunya menggunakan nama panggilan saya, Dhea. Dulu agak malu deh baca bukunya, karena nama saya disebut-sebut terus. Halah.
Nama teman-teman saya juga masuk di buku itu sebagai teman si Cinderella.
Sesampainya di pesta dansa yang megah, Sang Pangeran sangat terpesona akan kecantikan dan keramahan Dhea, tak henti-hentinya ia mengajak Dhea berdansa. Mereka berdua terus berdansa tanpa memperdulikan yang lain. Menjelang tengah malam, lonceng berdentang mengingatkan Dhea akan pesan peri pelindungnya. Dhea segera memohon diri sambil berlari sebelum lonceng berhenti berdentang menandakan tepat pukul 12 malam.
Aduh duh..jadi malu lagi deh bacanya haha.. Saya yang masih bocah ingusan makin malu baca bagian akhirnya.
Akhirnya dalam waktu singkat, Sang Pangeran diangkat menjadi Raja karena ayahandanya telah sangat tua. Sang Pangeran pun menyunting Dhea untuk jadi permaisurinya. Pesta pernikahan dilakukan dengan meriah, seluruh negara ikut bergembira untuk Sang Pangeran dan Dhea. Impian Dhea kini telah terwujud. Sekarang senyum kebahagiaan selalu menghias di bibir Dhea.
Baca bagian akhir yang seperti itu pasti bikin anak cewek umur tujuh tahun malu. Hehehe. Saking malunya, saya nggak mengijinkan mama buat baca hahaha.
Setelah saya terima buku Cinderella dan selesai baca, saya tukeran baca dengan buku teman yang lain (iya, anak-anak sekomplek nyaris semuanya pesan). Setelah baca buku punya teman, saya menyesal setengah mati kenapa milih cerita Cinderella. Ceritanya Cinderella sudah umum, nggak fresh lagi. Tanpa baca Buku Perananku juga sudah tau alur dan ending-nya. Teman saya ada yang milih cerita petualangan di peternakan, dsb sehingga ketika baca merupakan suatu hal yang baru dan private
Duh, kangen masa kanak-kanak ya.












ha ha ha ha ha