Feeds:
Posts
Comments

Apa yang terlintas di pikiran kalian saat menengar nama negara ‘Iran’? Di pikiran saya sendiri, yang langsung terbayang adalah Islam, debu, wanita dengan pakaian serba hitam tertutup, dan para gadis yang cantik. Yang saya selalu dengar adalah bahwa cewek-cewek Iran merupakan yang tercantik di dunia (walau ada juga yang bilang cewek dari Rusia paling cantik, ya selera sih..).

Waktu itu ada bazar buku di kampus saya, IPB. Lumayan juga diskonnya. Iseng-iseng lihat buku, saya menemukan buku Pelangi di Persia umyang ditulis oleh Dina Y. Sulaeman. Saya membelinya pada hari Jumat tanggal 19 Desember 2008 dengan harga Rp 63.500 (saya lupa ini harga setelah diskon atau belum). Tabpa pikir panjang saya beli, karena isinya menarik di mana pembaca dapat menyusuri eksotisme Iran. Melihat gambar-gambar gadis Iran yang dijadikan sampul buku, saya langsung tertarik. Eitts..bukan karena saya lesbi ya, tapi sedikit sirik melihat mereka cantik-cantik banget. Saya mau tahu cerita-cerita di balik pakaian hitam mereka.

Di dalam buku ini Dina bercerita banyak tetang Iran. Yang paling saya ingat (saya membacanya di tahn 2008, sekarang 2012) dan juga paling menarik adalah mengenai bagaimana perilaku dan kebiasaan-kebiasaan orang Iran, karena menurut saya lebih asyik untuk dipahami. Saya tidak terlalu fokus membaca ketika Dina bercerita mengenai tempat-tempat bersejarah di sana, selain karena nama-nama yang sulit diingat, juga karena saya tidak tertarik dengan tempat-tempat (objek wisata) di sana.

Banyak kejutan yang akan membuat kalian kaget. Dari halaman-halaman awal pun kalian akan dapat menemukannya. Mungkin terkejut karena hal tersebut baru bagi saya. Saya akan cerita sedikit fakta apa saja yang menarik dari Iran.

  • Di Iran, seperti di kebanyakan negara-negara Timur Tengah, sang pria lah yang ‘membeli’ wanita untuk menikah. Dalam bentuk koin emas. Memang di Islam sang pria yang memberi mahar, cuma sedikit keterlaluan juga ya kalau harga ‘pasaran’ di kota Tehran adalah 500 keping (setara 500 juta rupiah!!). Bahkan ada yang meminta hingga ribuan keping. Bisa dicicil juga maharnya. Alasan kenapa mahar bisa mahal sekali adalah agar ada jaminan hidup untuk si perempuan, jadi si laki-laki nggak bisa seenaknya menceraikan. Rugi lah sudah keluar uang banyak malah cerai. Urusan makin ribet ditambah bahwa kewajiban si laki-laki menyediakan rumah (minimalnya ngontrak). Pihak perempuan berkewajiban mengisi rumah tersebut dengan perabotan rumah tangga lengkap. Lengkap hingga ketel pemasak air.
  • Makanan di Iran semuanya super hambar. Bumbu dengan garam saja sudah Alhamdulillah. Bisa terbayang kan culture shock-nya seperti apa yang akan dialami orang Padang (Indonesia)? Hehe.
  • Cewek Iran wajib pakai pakaian panjang warna hitam, namanya chadur. Ada dua jenis, yang model Arab dan model khas Iran. Menurut deskripsi Dina,chadur Iran seperti ‘kain hitam membentuk lingkaran besar dengan diameter 2 meter, lalu dibelah dua, dan satu belahan setengah lingkaran diselubungkan ke tubuh kecuali muka’.Di buka ketika sampai di rumah. Apakah kalian turis asing, non muslim, atau apapun, kalau masuk Iran wajib pakai chadur.
  • Yang bandel juga ada.Banyak cewek Iran yang pake jilbabnya asal menclok di kepala. Rambutnya di cat pirang, lalu jambulnya dikeluarin dari jilbab.
  • Penampilan cewek Iran memang menutup aurat (umumnya), tapi mereka nggak ketinggalan mode. Di dalam rumah penampilan mereka cling! cling! cling! banget. Sang penulis, Dina, ketika berkunjung kerumah tetangga-tetangganya menemukan bahwa mereka memakai baju nan seksi dan riasan wajah yang cantik. Nggak ada deh daster lusuh kayak di Indonesia.
  • Perempuan Iran hobi banget ke salon. Sejak kecil, anak-anak perempuan rajin dibawa ibu-ibu mereka ke salon. Perempuan Iran memang harus menjaga penampilan. Alis mereka harus dirapikan dan lain-lain. Dina sang penulis menjelaskan kalau ia selalu ditatap aneh karena membiarkan alisnya begitu saja tanpa dirapikan (Umumnya di Indonesia memang begitu kan? Yang rajin nyalon sih kebanyakan wanita karir dan artis).

Pernah ada yang berkata kepada Dina “Sekarang saya paham, mengapa laki-laki Indonesia suka beristri lebih dari satu.”

Dina tergagap, “Kenapa memangnya?”

“Kalian tidak mengurus penampilan”

  • Pernah lihat hidung orang Iran? Mancung kan? Iya mancung banget. Meski sudah mancung, tetap saja nggak bikin mereka puas. Baik laki-laki maupun perempuan doyan untuk operasi hidung. Bahkan operasi hidung dipandang sebagai prestise di mana mereka akan dianggap orang berada, sehingga jangan heran kalau ada yang bahkan tetap membiarkan plester habis operasi tetap nempel di hidung kemanapun mereka pergi. Hingga berbulan-bulan lamanya. Duh.

Dhienar Meidawati Salam

Menarik kan? Masih banyak fakta menarik lainnya. Deskripsi yang dipaparkan Dina terasa mendalam. Tidak heran, karena memang dia dan suami sudah tinggal bertahun-tahun di Iran. Saya puas membaca buku ini. Padat, full of information, kualitas kertas bagus, dan disertai dengan banyak gambar. :)

Komik Jepang zaman sekarang penampakannya lebih variatif. Desain sampulnya dibuat full color dan memanfaatkan seluruh permukaan kertas untuk digambar. Desainnya juga tidak pakai pakem. Ukuran bebas. Tema dan cerita juga sangat berkembang pesat, makin kreatif dan inovatif. Mayoritas, cara bacanya sudah mengikuti teknik Jepang yakni dari kanan ke kiri (seperti cara baca Al-Quran).

Sebelumnya komik Jepang dibagi jadi beberapa kategori: Serial Candy’s, Serial Cantik, Serial Misteri, dll. :) Gaya menggambarkan manusia juga khas sekali; bola mata besar berbinar-binar, rambut keriting atau lurus panjang menjuntai, dress yang mengembang, dan cowok-cowok yang ciamik. Yang unik, sampul komik zaman dulu bisa dilepas. Bagian luar berwarna, kalau dilepas jadi cuma dua warna. Kadang putih-oranye, putih-hijau, putih biru, pokoknya ada warna putih. Gambar di sampulnya dikasih kotak. Tepi bagian atas diberi list untuk nulis “Buku Komik Elex Media Komputindo”.

Yang mau saya ceritakan sekarang adalah mengenai komik Lady karya Yoko Hanabusa. Pertama kali dipublikasikan di Jepang tahun 1987, di Indonesia sendiri pada tahun 1996. Yak, komik jadul. Di sampul buku masih tertempel sticker harga Rp 3.800,00. Tahun 1996 sih saya masih umur 6 tahun. Saya tau komik ini pertama kali dari tante saya, Tante Poppy. Tahun 1999 (saya kelas 3 atau 4 SD), setelah menikah, Tante Poppy pindah dari rumah orangtuanya ke rumah pribadi yang letaknya persis di samping kiri rumah saya. Kita jadi tetangga. Sewaktu pindahan itulah saya dikasih lungsuran komik banyak banget. Termasuk komik Lady ini.

Komik Lady 1 DhienarKomik Lady 2 Dhienar

Komik Lady 3 DhienarKomik Lady 4 Dhienar

Komik Lady 5 DhienarKomik Lady 6 Dhienar

Komik Lady 7 DhienarKomik Lady 8 Dhienar

Komik Lady 9 DhienarKomik Lady 10 Dhienar

Komik Lady 11 Dhienar

Sinopsis cerita:

Lady berkisah tentang cewek blaster Jepang-Inggris bernama Rin Midorikawa (iya, mata besar berbinar-binar dengan rambut merah keriting mengembang) yang bertekad untuk bisa jadiseorang lady sejati yang anggun, baik hati, tegar, dan cantik (kalimat ini selalu diulang sampai saya hapal). Ayahnya (George Russel Marbel) adalah putra mahkota Inggris. Istri pertamanya meninggal dan punya anak cewek (mata besar berbinar-binar dengan rambut lurus) namanya Sella Russel. Ayah Rin menikah dengan ibunya Rin yang orang Jepang sewaktu ada tugas ke Jepang. Sayangnya hubungan ini tidak disetujui dan diakui oleh ayah George atau kakek Rin (Duke Waughan). Ibunya Rin meninggal karena kecelakaan sewaktu mereka berniat pindah ke Inggris. Karena Rin nggak diakui, Rin jadi luntang-lantung Inggris dan Jepang. Si ayah menikah lagi dengan janda licik beranak dua (Baroness Moudolin). Anak-anaknya bernama Thomas dan Mery. Sama liciknya. Rin selalu punya dukungan dari kakaknya Sella dan juga dari kakak-beradik yang bergelar Earl (Arthur dan Edward). Rin dan Sella sama-sama mengagumi Arthur, tapi Edward suka Rin. Mereka dekat satu sama lain karena menukai olahraga berkuda. Seringpula ikut turnamen disana-sini. Di Jepang, Rin tinggal bersama kakek dan nenek, punya sahabat dan punya musuh pula. Rin berjuang keras agar dapat diakui sebagai keluarga oleh kakeknya (Duke) dan disenangi semua teman termasuk oleh ibu dan saudara tirinya.

Saya tidak ingat nomor seri komik yang dikasih Tante Poppy yang mana aja. Komik ini terdiri atas 12 nomor. Tamat di nomor 12, tapi yang saya dapat bolong-bolong. Bertahun-tahun saya cuma bisa nebak-nebak si Rin ini jadi nikah sama siapa, si Sella sama siapa, debut mereka sebagai lady kayak apa, dll. Komik ini cukup daleeemm untuk dihayati, tapi ya itu..gue ga punya yang nomor 12! *bold* *italic*

Sedikit lebay, saya menjalani hidup saya sebagai remaja dengan dilanda penasaran. Kalau diajak ke pameran buku, saya nggak pernah menemukan nomor 12. Nggak masalah kalau nomor tengah nggak ada, yang penting kan ending. Pasrah deh. Sampai pada suatu hari (Sabtu tanggal 6 Juni 2009), saat itu saya yang berstatus sebagai mahasiswi IPB semester-2-mau-masuk-ke-semester-3, iseng ke Bara (nama jalan) untuk beli makan. Iseng mampir masuk ke toko buku bekas yang letaknya dekat dengan gerbang Berlin.

*KLIMAKS*

Saya menemukan Lady nomor 12 tersempil manis!

Komik Lady 12 Dhienar

Lady #12

full collection Lady Dhienar

Ciee.. akhirnya lengkap sudah koleksi Lady.

Nggak perlu mikir. Langsung saya beli dengan harga Rp 5.000,00. Perlukah saya kasih tau ending-nya ke kalian? Sorry ya, nggak bisa segampang itu. Saya saja perlu sepuluh tahun buat tau! Hahaha. :)

catatan: kalau ada yang nanya kenapa ada yang nggak bersampul, itu karena emang nemu di toko bukunya sudah dalam kondisi demikian. Hiks.

Tanpa perlu ditanya saya yakin banyak orang yang sudah pernah baca buku cerita. Pernah baca buku yang nama tokohnya sama dengan nama kalian? Itu juga pasti pernah dialami oleh banyak orang. Malah sudah umum. Yang tidak biasa adalah saya menjadi tokoh di buku cerita.

Seperti biasa, suatu informasi pasti mudah tersebar di antara ibu-ibu di komplek manapun. Di zaman saya masih SD, kala itu beredar brosur pemesanan buku cerita yang namanya bisa diganti. Mama saya ikutan dong nawarin saya dan adik saya, Farid, mau atau nggak pesan buku tersebut.

Buku ini namanya Buku Perananku. Buku ini dicetak oleh PT Dalancang Seta di Jakarta. Mereka menawarkan puluhan judul cerita di brosur. Kita tinggal memilih buku mana yang mau dipesan dan diganti nama tokohnya dengan nama kita sendiri! Lucu ya. Berhubung dulu saya masih polos dan masih anak-anak yang termakan indahnya cerita princess Disney, tanpa mau repot mikir saya pilih cerita Cinderella. Adik saya milih cerita tentang petualangan trio penyelamat. Harga bukunya saya lupa (yang bayar mama, jadi nggak perlu dong). Di buku tertulis, dicetak bulan Juli tahun 1997. Wah masih ada tidak ya yang seperti ini?

Front Cinderella Buku Perananku DhienarBack Cinderella Buku Perananku Dhienar

Tokoh utama cerita Cinderella sudah jelas si Cinderella. Nah, Cinderella-nya itu saya. Saya pesan bukunya menggunakan nama panggilan saya, Dhea. Dulu agak malu deh baca bukunya, karena nama saya disebut-sebut terus. Halah. :) Nama teman-teman saya juga masuk di buku itu sebagai teman si Cinderella.

Sesampainya di pesta dansa yang megah, Sang Pangeran sangat terpesona akan kecantikan dan keramahan Dhea, tak henti-hentinya ia mengajak Dhea berdansa. Mereka berdua terus berdansa tanpa memperdulikan yang lain. Menjelang tengah malam, lonceng berdentang mengingatkan Dhea akan pesan peri pelindungnya. Dhea segera memohon diri sambil berlari sebelum lonceng berhenti berdentang menandakan tepat pukul 12 malam.

Aduh duh..jadi malu lagi deh bacanya haha.. Saya yang masih bocah ingusan makin malu baca bagian akhirnya.

Cinderella Dhienar The Book Rack

Akhirnya dalam waktu singkat, Sang Pangeran diangkat menjadi Raja karena ayahandanya telah sangat tua. Sang Pangeran pun menyunting Dhea untuk jadi permaisurinya. Pesta pernikahan dilakukan dengan meriah, seluruh negara ikut bergembira untuk Sang Pangeran dan Dhea. Impian Dhea kini telah terwujud. Sekarang senyum kebahagiaan selalu menghias di bibir Dhea.

Baca bagian akhir yang seperti itu pasti bikin anak cewek umur tujuh tahun malu. Hehehe. Saking malunya, saya nggak mengijinkan mama buat baca hahaha.

Setelah saya terima buku Cinderella dan selesai baca, saya tukeran baca dengan buku teman yang lain (iya, anak-anak sekomplek nyaris semuanya pesan). Setelah baca buku punya teman, saya menyesal setengah mati kenapa milih cerita Cinderella. Ceritanya Cinderella sudah umum, nggak fresh lagi. Tanpa baca Buku Perananku juga sudah tau alur dan ending-nya. Teman saya ada yang milih cerita petualangan di peternakan, dsb sehingga ketika baca merupakan suatu hal yang baru dan private

Duh, kangen masa kanak-kanak ya.

 

Kalian adalah generasi yang pernah jadi anak SD di tahun 90-an? Pernah dengar Goosebumps? Goosebumps adalah buku novel horor karya R. L. Stine (penerbit Gramedia) yang punya berbagai macam judul cerita, misalnya:

  • Goosebumps #1: Selamat Datang di Rumah Mati
  • Goosebumps #2: Jauhi Ruang Bawah Tanah
  • Goosebumps #3: Darah Monster
  • dll (setidaknya yang terdaftar di bagian akhir buku terdapat 47 judul, tapi pasti lebih dari ini)

Saya juga bingung siapa yang pertama kali ngenalin saya sama Goosebumps. Pokoknya di tahun 1997 atau 1998, di komplek perumahan, Goosebumps ini booming banget. Dulu, harga buku ini sekitar 8.000 rupiah lebih atau mungkin 10.000-an. Saya dan teman-teman berlomba-lomba beli judul yang belum dipunya dan saling pinjam-meminjam. Kalau ada yang punya judul baru, wah heboh banget deh. Saya dan teman-teman sibuk sendiri mengomentari dan cerita pengalaman baca Goosebumps; bikin takut, seram banget, nggak berani ke WC, nggak bisa tidur, jangan baca pas malam hari, dll. Yang bikin asyik juga, Goosebumps suka kasih bonus sticker keren yang bisa glow in the dark. Di bagian akhir buku ada cuplikan bab untuk judul lainnya supaya bikin kita penasaran “Eh kayaknya yang ini seru deh..”.

Seingat saya cukup banyak judul yang saya beli, tapi sampai tahun 2012 ini, yang tersisa bertengger di rak buku saya cuma ada dua judul yaitu

  • Goosebumps #4: Bergaya Sebelum Mati (punya saya cetakan keenam: Maret 1999)
  • Goosebumps #53: Kutukan Ayam (cetakan kedua: Januari 1998)

Goosebumps Dhienar The Rack Book

Bukunya tipis, jumlah halaman 100 lebih tapi jarang sampai 150 halaman. Ukuran font-nya besar. Emang tipe buku anak-anak, tapi dulu kalau baca buku ini kayaknya ngos-ngosan capek. Kalau lagi iseng nggak ada kerjaan, saya suka buka-buka dan baca lagi Goosebumps tersebut. Meski ceritanya ringan, tetap saja saya lupa karena sudah bertahun-tahun lalu bacanya. Membaca ulang Goosebumps bikin kenangan masa kecil kembali lagi.

Di buku Bergaya Sebelum Mati, diceritakan bahwa kamera tua yang ditemukan Greg bisa menghasilkan foto yang menggambarkan masa depan. Ayah Greg punya mobil baru dan mulus, tapi ketika di foto hasilnya malah mobil yang rusak karena kecelakaan. Ada juga temannya yang dipotret tapi nggak nampak di foto. Cerita Bergaya Sebelum Mati masih oke lah ya untuk diterima nalar saya sebagai ‘lumayan seram’, sampai pada akhirnya saya baca Goosebumps Kutukan Ayam.

Di Kutukan Ayam, ada kakak-beradik yang dikutuk oleh Vanessa jadi ayam. Punya paruh dan badan ditumbuhi bulu. Yang langsung terpikir dan malah bikin ngakak sendiri adalah “Heran deh, bisa-bisanya dulu gue ketakutan dan nganggep cerita orang yang berubah jadi ayam itu serem”. Hahaha. Please deh..

Entah sejak kapan saya tertarik jadi filatelis alias pengoleksi perangko, lupa tahun memulainya, namun yang pasti sejak SD. Seketika langsung tertarik untuk memulai, ketika saya pernah lihat beberapa album koleksi perangko milik tante (biasa saya panggil Mbak Dewi). Nah, saya bingung dong mulai ngumpulin perangko dari mana.

Ini dia koleksi perangko saya, ada kartu pos juga tapi cuma beberapa.

Saya tidak ingat apakah awal saya jadi filatelis bertepatan dengan (atau menjadi alasan) saya nyari sahabat pena. Anak SD gaul zaman dulu pasti baca majalah Bobo ya, hehe. Saya hunting anak cewek yang seumuran dengan saya di Bobo. Kebetulan tiap anak yang ngirim surat pembaca, artikel, gambar, dll ke Bobo, pasti mencantumkan nama lengkap, umur, alamat rumah, kadang alamat SD. Begitu ketemu yang pas, langsung saya kirimin surat dan bilang saya mau jadi sahabat pena dia. Kalau ga salah namanya Indah, sungguh sudah lupa. Waktu itu dia tinggal di Bandung. Wah, seneng banget begitu surat saya dibalas. Dengan perangko senilai 1.000 atau 1.500 rupiah, kira-kira jarak waktu saya ngirim dan terima balasan seminggu lebih. Dapat perangko, dapat cerita baru dari dia.

Letak SD saya (SDN PUSPIPTEK di Serpong) dekat banget sama kantor pos. Ketika jam istirahat, pasti saya mampir ke kantor pos bareng teman-teman. Tujuannya 1) kadang untuk ngecek ada perangko keluaran baru, 2) beli perangko baru, 3) ngirim surat, atau 4) ngirim undian berhadiah (saya pernah menang loh, dapat Tamagochi dari majalah INA, lumayan banget secara harganya dulu ratusan ribu). Dulu saya update banget kalau ada perangko baru. Pernah ada perangko seri planet, seri cerita rakyat, karangan bunga, pahlawan, dll. Tentunya tiap seri bukan cuma satu atau dua gambar, jadi kadang saya belinya dengan mencicil. Kalau beli seri lengkap harganya bisa 9.000 rupiah, dulu mahal banget segitu, apalagi masih anak SD yang uang jajan aja nggak nyampe 2.000 rupiah. Saya masih suka ketawa sendiri kalau ingat bahwa dulu anggapan saya perangko itu keren kalau ada cap-nya! Ide pun muncul. Saya tulis surat asal atau kadang kosong, masukin ke amplop, kirim ke alamat rumah sendiri. Iya, nulis surat buat diri sendiri. Bahagia banget kalau liat ada motor orange datang ke rumah atau sewaktu liat beberapa amplop bertebaran di lantai garasi rumah. Hahaha. Kadang juga saya surat-suratan sama teman yang rumahnya persis ada di sebelah rumah. Saya jadi mikir, gila juga ya ini cuma ngerjain tukang pos. Saya juga rugi uang buat beli amplop. Akhirnya setiap beli perangko, saya langsung minta bapak-bapak di kantor pos buat lansung ngasih cap. Sampai pada suatu hari mama saya bilang “ih, perangko mah bagusan ga ada cap dong”, jadi bingung lagi deh enakan di cap atau tidak.

Perangko Seri Cerita Rakyat

Perangko seri cerita rakyat. Kalau punya secara utuh, akan ada alur cerita bergambar jika perangko dijejerkan.

Perangko karikatur Dhienar

Saya nggak tau ini seri apa, mungkin tokoh karikatur.

Hmm..perangko yang sudah ada berarti dari Indonesia. Nggak seru dong kalo filatelis tidak punya perangko luar negeri, tapi dari mana? Bermodalkan ngemis dan tampang melas, saya dapat beberapa dari Mbak Dewi. Papa juga pernah tiba-tiba ngasih puluhan perangko luar yang masih bagus seperti nggak pernah nempel di amplop atau kartu pos; jadi asli atau nggak nih? Cara lain adalah nukar perangko yang ganda dengan koleksi punya teman (tepatnya sih punya orangtua mereka haha). Pernah saya lihat ada lumayan banyak perangko negara Jerman nempel di buku punya papa, kebetulan dulu emang papa pernah kursus/sekolah di sana. Tanpa sepengetahuan papa, saya cungkil perangkonya dan pindah masuk ke album perangko tercinta. :) Koleksi bertambah banyak deh apalagi kadang dapat hibah perangko dari siapa saja.

Selulusnya saya dari SD, bikin hobi ini macet total. Bosan kali ya? Saya baru terima perangko kalau ada yang kirim surat. Waktu SMA saya ikut bimbingan belajar di Mitra Pelajar. Laporan kuis dan kehadiran di kirim lewat pos supaya orangtua tau tiap bulan. Tiap bulan juga saya dapat perangko lagi, meski gambarnya cuma itu-itu saja.

Di masa kuliah, aduh boro-boro deh mikirin perangko. Lagipula semua serba instan lewat internet. Kalau mau menghubungi pacar saya yang orang India saja bisa dalam hitungan detik. Zaman berubah. Saya dan pacar, Abdul Salam, kadang juga suka mencoba kirim surat secara tradisional: lewat pos! Dari India ke Indonesia, dari Indonesia ke India. Yeay, dapat perangko lagi. Waktu saya ulang tahun, Salam pernah ngasih cukup-banyak perangko sebagai kado. Dia beli hihihi.

Sekarang mau diapakan koleksi perangkonya? Belum tau. Ada yang mau beli dengan harga tinggi mungkin? Hehehe. Yang saya sayangkan dari menjual perangko-perangko ini adalah nilai historisnya.

 

Love Sick

Me and Salam are now adults and ready to face the future. Trying to build our own life, we are looking for good jobs. I’m working as freelancer in LPIA (Lembaga Pendidikan Indonesia Amerika), an institution where you can learn English, graphic design, web design, computer, etc. Not trying to be rich by this, I only look for experiences before I graduate from university. It’s a fun to get my own money, though it’s not as much as the expected salary hehe.

So Salam is looking for fortune in Malaysia. He got interview for a position in Dubai, passed it by invitation to take that post with nice-starter salary. He left it. If he works in Malaysia, he can visit me in Indonesia gradually. He left home at November 15th 2011 to airport in Chennai. His flight also got delayed for hours. I wish I could be with him until his boarding time, but 1,5 hours of our time difference didn’t let me to stay awake. Last IM i got in Yahoo Messenger is “Going to malay jaan. Love u.”

It has been 19 hours since last IM. I’ve been waiting for his news but I believe he is now in Malaysia. I’m so nervous. I’ve sent many IMs, but still no reply yet. He might have difficulties to get wifi there or internet connection. Whatever it is, i just want to know he is ok. Feel so weak, I really can’t miss a single day without him.

You know, the finest thing of his leaving from India is that we gonna meet again for the second time and celebrate our very-first best moment of 17th month in “real world” within just a month. That’s hope.

I miss you.

Incredible India >> Truly Asia >> Wonderful Indonesia

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.